Bunga Shuǐ Xiān putih mekar sempurna di tepi danau. Aroma harumnya menusuk indra, membawa serpihan kenangan yang familiar namun terasa as...

Kisah Seru: Di Setiap Reinkarnasi, Aku Tetap Orang Yang Kau Tinggalkan Kisah Seru: Di Setiap Reinkarnasi, Aku Tetap Orang Yang Kau Tinggalkan

Bunga Shuǐ Xiān putih mekar sempurna di tepi danau. Aroma harumnya menusuk indra, membawa serpihan kenangan yang familiar namun terasa asing. Li Wei, seorang pelukis muda dengan mata sayu menyimpan kesedihan abadi, tak mampu melepaskan pandang dari keindahan rapuh itu. Seolah bunga itu memanggilnya, membangkitkan bayangan seorang wanita berpakaian merah, berdiri di tempat yang sama, seratus tahun yang lalu.

Ia tak percaya pada reinkarnasi. Ia seorang rasionalis. Namun, entah mengapa, setiap kali mendengar melodi guzheng yang dimainkan di sudut jalan, hatinya berdenyut sakit, seakan luka lama kembali menganga. Suara itu... suara itu adalah miliknya.

Seratus tahun lalu, di era Dinasti Qing, Li Wei adalah Li Lian, seorang jenderal muda gagah berani. Kekasihnya, Mei Ling, adalah wanita bangsawan dengan hati selembut sutra. Mereka saling mencintai, terikat oleh janji abadi di bawah pohon persik yang sedang bermekaran. Namun, perang dan intrik politik menghancurkan segalanya. Mei Ling dijodohkan dengan seorang pangeran, dan Li Lian, karena cintanya yang tulus, memilih mengundurkan diri, rela membiarkan Mei Ling pergi demi kebahagiaannya. Sebuah dosa.

Janji mereka terucap dalam bisikan pedih di malam perpisahan: "Di kehidupan selanjutnya, aku akan menemukanmu, Lian. Dan aku akan memilihmu, selalu."

Tapi takdir punya rencana lain.

Li Wei bertemu Zhang Mei, seorang kurator museum muda yang cerdas dan penuh semangat. Nama yang familiar, wajah yang... mirip. Saat Zhang Mei menatap lukisan potret Mei Ling yang disimpan di museum, air mata mengalir tanpa ia sadari. Kenangan itu... mulai kembali.

Mereka semakin dekat, terikat oleh benang tak kasat mata. Li Wei merasakan dejavu yang kuat setiap kali bersama Zhang Mei. Kata-kata yang sama terucap, mimpi yang sama terulang. Mereka menari di bawah cahaya rembulan, seperti yang pernah mereka lakukan seratus tahun lalu. Kebahagiaan semu.

Namun, kebenaran pahit perlahan terkuak. Melalui mimpi, melalui lukisan tua, melalui fragmen ingatan yang menyakitkan, mereka akhirnya mengerti: Mei Ling, yang dijodohkan dengan pangeran, akhirnya bunuh diri karena tak sanggup hidup tanpa Li Lian. Ia melanggar janjinya.

Dosa masa lalu menghantui mereka. Zhang Mei, yang menyimpan rasa bersalah mendalam, merasa tak pantas bersanding dengan Li Wei. Ia merasa telah mengecewakan Li Lian, sekali lagi.

Li Wei, alih-alih marah atau menuntut balas dendam, hanya menatap Zhang Mei dengan tatapan penuh pengertian. Ia mengerti beban yang dipikul Zhang Mei. Ia mengerti penderitaan yang telah dialaminya selama berabad-abad. Ia hanya tersenyum lembut, sebuah senyum yang menusuk, lebih menyakitkan dari amarah membara.

Ia tidak membalas dendam dengan kata-kata kasar atau tindakan keji. Ia membalas dendam dengan keheningan dan pengampunan. Karena itulah yang seharusnya dilakukan cinta sejati. Ia melepaskan Zhang Mei, membiarkannya pergi mencari kedamaian.

Saat Zhang Mei berbalik dan melangkah menjauh, Li Wei berbisik lirih, nyaris tak terdengar:

"Mungkin... di kehidupan selanjutnya..."

You Might Also Like: Drama Populer Aku Berdoa Pada Langit

Cinta yang Menghapus Semua Warna Di balik tirai sutra Istana Timur, Li Wei, dulu dikenal sebagai putri mahkota yang ceria dengan tawa sece...

Drama Abiss! Cinta Yang Menghapus Semua Warna Drama Abiss! Cinta Yang Menghapus Semua Warna

Cinta yang Menghapus Semua Warna

Di balik tirai sutra Istana Timur, Li Wei, dulu dikenal sebagai putri mahkota yang ceria dengan tawa secerah mentari pagi, kini hanyalah bayangan. Warna-warna cerah yang pernah menghiasi hidupnya telah dilucuti paksa, digantikan abu-abu kehancuran yang menyelimuti jiwanya. Ia adalah bunga teratai yang tumbuh di medan perang, rapuh namun menyimpan kekuatan yang luar biasa.

Dikhianati. Kata itu terlalu ringan untuk menggambarkan apa yang telah dilakukan Kaisar kepadanya. Cinta yang ia berikan sepenuh hati, kekuasaan yang ia bantu raih, dibalas dengan pengasingan dan penghancuran keluarganya. Istana, yang dulu adalah rumah, kini adalah penjara emas tempat ia meratapi kehilangannya. Luka-luka masa lalu bagaikan duri yang terus menusuk hatinya, mengingatkannya pada rasa sakit tak terperi.

Namun, di balik tatapan mata yang dingin, bara api KEBANGKITAN mulai menyala. Li Wei tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Ia akan menggunakan setiap air mata yang ia tumpahkan untuk menyirami benih balas dendam yang telah ditanam dalam hatinya. Balas dendam bukan dengan amarah yang membabi buta, melainkan dengan KETENANGAN yang mematikan.

Ia memulai dengan mempelajari seluk-beluk politik istana, mengamati setiap gerakan, menganalisis setiap kelemahan. Ia menggunakan kecerdasannya, yang dulu dianggap sebagai anugerah, kini sebagai senjata. Ia belajar bermain dalam kegelapan, merangkai strategi seperti merajut sutra, halus namun mematikan.

Perlahan, ia mulai menjalin aliansi, mendekati mereka yang terpinggirkan, mereka yang memiliki dendam serupa. Ia membangun jaringan, bukan dengan janji manis, tetapi dengan PEMAHAMAN yang mendalam. Ia menawarkan harapan, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan TINDAKAN.

Waktu berlalu. Li Wei, dari putri mahkota yang hancur, bertransformasi menjadi sosok yang ditakuti dan dihormati. Ia tidak lagi mengenakan warna-warna cerah, melainkan gaun hitam yang menyerap semua cahaya, melambangkan kegelapan yang kini menjadi kekuatannya. Senyumnya, yang dulu tulus, kini hanya hadir sebagai topeng, menyembunyikan rencana yang ia simpan rapat-rapat.

Puncaknya tiba. Dengan perhitungan yang cermat dan kesabaran yang tak terbatas, Li Wei berhasil menjatuhkan Kaisar. Bukan dengan pemberontakan berdarah, melainkan dengan strategi yang begitu brilian hingga lawannya tidak menyadari jebakan yang telah dipasang. Ia mengambil alih tahta, bukan untuk membalas dendam secara pribadi, tetapi untuk memperbaiki kerajaan yang telah dirusak oleh keserakahan dan kekuasaan.

Di hari penobatannya, Li Wei berdiri di balkon istana, mengenakan jubah kaisar yang berat. Angin bertiup kencang, menerbangkan rambutnya. Ia menatap ke arah rakyatnya, wajahnya tanpa ekspresi. Rasa sakit masa lalu masih membekas, namun kini ia memegang kendali. Ia telah mengubah kehancurannya menjadi kekuatan, lukanya menjadi keindahan.

Ia adalah Ratu. Ia adalah KEKUATAN. Ia adalah KEADILAN.

Namun, di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia benar-benar telah memenangkan pertempuran ini, ataukah ia hanyalah tawanan dari masa lalunya sendiri, selamanya terikat dengan cinta yang telah menghapus semua warna? ...

You Might Also Like: Ini Baru Drama Bayangan Yang Tak Pernah

Tangisan yang Tak Lagi Minta Maaf Babak pertama dimulai di tengah hiruk pikuk Shanghai modern. Di sebuah galeri seni yang megah, seorang w...

Endingnya Gini! Tangisan Yang Tak Lagi Minta Maaf Endingnya Gini! Tangisan Yang Tak Lagi Minta Maaf

Tangisan yang Tak Lagi Minta Maaf

Babak pertama dimulai di tengah hiruk pikuk Shanghai modern. Di sebuah galeri seni yang megah, seorang wanita muda bernama Lin Mei berdiri terpaku di depan lukisan bunga plum. Bukan lukisan yang membuatnya terpesona, melainkan suara piano yang mengalun dari sudut ruangan. Melodi itu... melodi itu seolah memanggilnya dari kedalaman jiwa.

Jantung Lin Mei berdebar kencang. Ia merasakan debaran aneh, seolah ingatannya berusaha keras untuk kembali. Ia menghampiri sumber suara dan melihat seorang pria duduk di depan piano. Sosoknya memancarkan aura ketenangan dan kesedihan. Namanya adalah Jiang Wei, seorang pianis muda yang sedang naik daun.

Pandangan mereka bertemu.

Ada sesuatu yang FAMILIAR.

"Anda..." Lin Mei memulai, suaranya bergetar. "Anda memainkan melodi yang... yang saya kenal."

Jiang Wei tersenyum tipis. "Melodi kuno. Mungkin Anda pernah mendengarnya di suatu tempat." Tapi matanya menyimpan rahasia yang lebih dalam.

Sejak hari itu, kehidupan Lin Mei dan Jiang Wei terjalin. Mimpi-mimpi aneh mulai menghantui Lin Mei. Potongan-potongan adegan muncul: taman bunga plum yang luas, rumah kayu kuno, seorang pria yang memeluknya di bawah rembulan. Bayangan seorang wanita lain yang penuh amarah dan kebencian.

Jiang Wei pun merasakan hal serupa. Ia dihantui bayangan masa lalu, kilasan dendam yang membara dan janji yang dilanggar. Ia selalu merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya, sesuatu yang ia cari tanpa tahu apa itu.

Setiap bunga plum yang mekar di musim semi, bisikan angin yang menerpa dedaunan, bahkan aroma hujan pertama, semua itu terasa seperti DEJA VU yang menyakitkan.

Perlahan, mereka mulai mencari tahu. Mereka mengunjungi perpustakaan kuno, menelusuri catatan sejarah, dan mewawancarai para sesepuh desa. Sebuah kisah tragis mulai terungkap:

Seratus tahun lalu, di desa terpencil di kaki gunung, hiduplah seorang wanita bernama Mei Lan yang mencintai seorang pria bernama Wei Jian. Mereka merencanakan pernikahan di bawah pohon plum yang sedang berbunga. Namun, seorang wanita lain, Nyonya Zhang, terobsesi dengan Wei Jian dan menjebak Mei Lan dengan tuduhan palsu. Mei Lan diusir dari desa dan meninggal dunia dalam kesedihan. Wei Jian, yang percaya pada fitnah itu, menikahi Nyonya Zhang. Di akhir hayatnya, Wei Jian menyadari kebenaran dan menyesali perbuatannya.

DOSA itu, JANJI yang dilanggar, semuanya terukir dalam jiwa mereka.

Lin Mei dan Jiang Wei menyadari bahwa mereka adalah reinkarnasi dari Mei Lan dan Wei Jian. Nyonya Zhang pun bereinkarnasi menjadi sosok yang dekat dengan mereka, menebar intrik dan berusaha menghancurkan kebahagiaan mereka sekali lagi.

Namun, Lin Mei bukan lagi Mei Lan yang lemah. Ia telah belajar dari masa lalu. Ia tak akan membalas dendam dengan kemarahan, melainkan dengan... KEHENINGAN dan PENGAMPUNAN.

Di puncak gunung, di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Lin Mei menghadapi reinkarnasi Nyonya Zhang. Ia menatapnya dengan mata yang penuh dengan kedamaian.

"Aku tidak membencimu," ucap Lin Mei dengan suara lembut. "Aku mengampunimu. Karena dendam hanya akan melahirkan dendam. Aku memilih untuk melepaskan masa lalu."

Reinkarnasi Nyonya Zhang terkejut. Ia tak menyangka akan mendapatkan pengampunan. Kekuatan kebenciannya luruh.

Jiang Wei menggenggam tangan Lin Mei. Mereka berdiri bersama, menatap matahari terbenam. Masa lalu telah berlalu. Masa depan terbentang di hadapan mereka.

Namun, sebelum mereka benar-benar berdamai, sebuah bisikan lirih terdengar, seolah berasal dari kehidupan sebelumnya: "Wei Jian... jangan lupakan janjimu..."

You Might Also Like: Ini Baru Drama Aku Menulis Kontrak

Senyum yang Memecah Langit Duka Hujan kota membasahi jendela apartemenku, persis seperti air mata yang tak pernah benar-benar jatuh. Di la...

Drama Seru: Senyum Yang Memecah Langit Duka Drama Seru: Senyum Yang Memecah Langit Duka

Senyum yang Memecah Langit Duka

Hujan kota membasahi jendela apartemenku, persis seperti air mata yang tak pernah benar-benar jatuh. Di layar ponsel, notifikasi dari grup kerja berkelebat, kontras dengan sisa chat dengan dia yang tak terkirim. Kata-kata itu menggantung di udara maya, sama seperti kenangan tentang tawanya yang masih bergema di sudut-sudut hatiku.

Namanya, Lin Yi.

Kami bertemu di dunia pixel, di antara meme dan opini pedas tentang drama Korea terbaru. Tawanya, secerah wallpaper musim semi di ponselku, adalah oase di tengah gurun kesepianku. Kami berbagi mimpi, cita-cita, bahkan ketakutan tergelap, lewat deretan emoticon dan voice note yang kini hanya menjadi hantu digital.

Lalu, ia menghilang.

Tanpa jejak. Nomornya tak aktif. Akun media sosialnya lenyap. Seolah Lin Yi hanyalah ilusi, glitch dalam matriks kehidupanku.

Aroma kopi yang kubuat setiap pagi terasa hambar. Hujan selalu mengingatkanku pada malam terakhir kami video call. Ia tersenyum, senyum yang menenangkan, di tengah suara gemuruh petir. Ia berjanji akan selalu ada. JANJI.

Aku mencoba melupakannya. Berkencan dengan orang lain. Bekerja lebih keras. Tapi bayangannya selalu ada, seperti watermark tak kasat mata di setiap aspek hidupku.

Kemudian, aku menemukan sebuah file tersembunyi di laptopnya, yang dulu sempat ia pinjamkan padaku. Sebuah video. Lin Yi, bukan lagi gadis ceria yang kukenal, tapi sosok rapuh yang berjuang melawan penyakit mematikan. Ia merekam pesan untukku.

"Maafkan aku, Xiao Zhan. Aku tidak ingin kau melihatku layu. Biarkan kenangan tentangku tetap utuh, seperti senyum yang pernah kuberikan padamu. Jangan mencari, jangan bertanya. Cukup ingat aku..."

Rahasia itu akhirnya terungkap.

Duka cita membungkamku. Amarah membakar hatiku. Bukan karena kepergiannya, tapi karena kebohongan yang ia simpan rapat-rapat. Ia merampas hakku untuk berpamitan.

Waktunya pembalasan. Bukan pembalasan yang berdarah-darah, tapi yang elegan.

Aku menciptakan sebuah aplikasi—sebuah platform bagi orang-orang yang berjuang melawan penyakit kronis, di mana mereka bisa berbagi cerita, mendapatkan dukungan, dan merasa tidak sendirian. Aku menamainya: "Senyum Lin Yi."

Aku memastikan, aplikasi ini akan menjangkau jutaan orang, di seluruh dunia. Aku ingin senyumnya, semangatnya, terus hidup, meskipun ia sendiri telah tiada.

Lalu, aku mengirimkan pesan terakhir ke nomornya yang sudah tidak aktif. Sebuah screenshot dari launching aplikasi itu. Di atasnya, kutulis:

"Ini senyummu, Lin Yi. Abadi."

Aku mematikan ponselku. Meninggalkan semua jejak digital tentangnya. Berdiri di balkon, merasakan tetesan hujan di wajahku. Tersenyum—sebuah senyum dingin dan penuh kemenangan.

Dan kemudian, aku pergi…

Namun pertanyaannya, akankah dia benar-benar tenang di sana?

You Might Also Like: Alasan Sunscreen Mineral Untuk Kulit

Kenangan yang Menolak Mati di Tengah Bara Lorong istana Zifeng sunyi senyap, hanya diterangi obor yang menari-nari. Bayangan panjang mena...

Cerpen: Kenangan Yang Menolak Mati Di Tengah Bara Cerpen: Kenangan Yang Menolak Mati Di Tengah Bara

Kenangan yang Menolak Mati di Tengah Bara

Lorong istana Zifeng sunyi senyap, hanya diterangi obor yang menari-nari. Bayangan panjang menari di dinding, menciptakan ilusi hantu-hantu masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Angin dingin berdesir, membawa aroma cendana dan… sesuatu yang lebih tajam, lebih metalik. Aroma darah?

Mei Lan, yang dianggap tewas sepuluh tahun lalu dalam pemberontakan berdarah, berdiri di ujung lorong. Jubah hitamnya menyembunyikan sosoknya, menyisakan hanya sepasang mata yang membara, memancarkan tekad yang sama dinginnya dengan lantai marmer.

Di hadapannya, berdiri Kaisar Xuan, kakak laki-lakinya. Wajahnya yang dulu tampan kini dihiasi kerut kecemasan. Di tangannya tergenggam cangkir teh porselen yang bergetar.

"Mei Lan… aku… aku pikir kamu sudah mati," ucapnya, suaranya nyaris berbisik.

Mei Lan tertawa pelan, suara yang membuat bulu kuduk meremang. "Mati? Bagaimana mungkin aku mati, Kakak? Saat keadilan belum ditegakkan?"

"Keadilan? Kau bicara tentang pemberontakan itu? Kau tahu itu adalah VAKSIN untuk takhta." Kaisar Xuan meneguk tehnya, mencoba menenangkan diri.

Mei Lan melangkah mendekat. "Pemberontakan? Atau pembantaian yang diatur dengan rapi? Kau membunuh ibu kami, Kakak. Kau menuduhnya berkhianat untuk menyingkirkan satu-satunya penghalangmu."

Kaisar Xuan terdiam. Matanya menunjukkan ketakutan yang belum pernah dilihat siapa pun.

"Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu kau menyebarkan desas-desus tentang hubungan gelap ibu dengan Jenderal Wei? Kau menabur benih keraguan, dan kemudian menuai badai darah." Mei Lan berhenti tepat di depannya, menatapnya dengan tatapan menghakimi. "Aku membiarkanmu percaya aku mati. Aku menghilang, menyusun rencana, mengumpulkan bukti. Aku telah menunggu saat ini selama sepuluh tahun."

Kaisar Xuan menjatuhkan cangkir tehnya. Pecahan porselen berserakan di lantai, seperti harapan yang hancur berkeping-keping.

"Kau… kau tahu?" bisiknya.

Mei Lan tersenyum tipis. "Aku selalu tahu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membongkar sandiwara ini. Lihatlah sekelilingmu, Kakak. Para penjaga? Mereka setia padaku, bukan padamu. Para menteri? Mereka tahu kebenaran, dan mereka muak dengan kebohonganmu."

Kaisar Xuan menoleh, melihat mata-mata yang dulu setia kini menatapnya dengan dingin. Keheningan lorong istana pecah oleh suara pedang yang dihunus.

Mei Lan mendekat dan membisikkan kata-kata terakhirnya. "Kau berpikir aku korban. Kau keliru, Kakak. Aku-lah yang memainkan peran korban dengan sempurna, sementara kau menari mengikuti irama yang kutentukan."

Kemudian, dengan satu gerakan elegan, dia mencabut pedang tersembunyi di balik jubahnya.

Di tengah keheningan, suara Mei Lan terdengar menggema, penuh penekanan dan rasa pahit. "Dan sekarang, takdirmu telah digenapi."


Karena, sang pelindung ternyata adalah dalang sesungguhnya.

You Might Also Like: 0895403292432 Beli Skincare Terbaik_16

Cinta yang Menjadi Legenda Embun pagi merayapi kelopak bunga lotus, serupa dengan air mata yang diam-diam membasahi pipi Li Mei. Ia, sang ...

Harus Baca! Cinta Yang Menjadi Legenda Harus Baca! Cinta Yang Menjadi Legenda

Cinta yang Menjadi Legenda

Embun pagi merayapi kelopak bunga lotus, serupa dengan air mata yang diam-diam membasahi pipi Li Mei. Ia, sang putri terbuang, terpaksa hidup dengan identitas palsu sebagai pelayan di istana. Setiap senyum yang ia lemparkan adalah topeng, setiap kata yang ia ucapkan adalah labirin kebohongan. Di balik tatapannya yang teduh, tersembunyi dendam yang membara seperti api unggun di malam yang sunyi.

Di sisi lain, berdiri Jenderal Zhao Yun, pahlawan perang yang gagah berani, namun hatinya terluka. Ia dihantui mimpi buruk tentang pengkhianatan yang merenggut keluarganya. Obsesinya hanya satu: MENEMUKAN KEBENARAN, tak peduli betapa menyakitkannya. Ia mencium aroma kebohongan di mana-mana, bahkan di senyum manis Li Mei.

Pertemuan mereka bagaikan perpaduan antara air dan api. Li Mei berusaha menjauh, takut rahasianya terbongkar. Zhao Yun, sebaliknya, tertarik seperti ngengat pada cahaya. Ia melihat sesuatu yang tersembunyi di balik mata Li Mei, sebuah cerita yang ingin diceritakan, namun terbungkam oleh ketakutan.

"Setiap rahasia memiliki harga," bisik Zhao Yun suatu malam, saat mereka berdiri di bawah rembulan. "Dan harga kebohongan... terkadang terlalu mahal untuk dibayar."

Kata-kata itu bagaikan anak panah yang menembus jantung Li Mei. Ia merasakan dunianya berputar. Zhao Yun semakin dekat, selangkah demi selangkah, mengungkap lapis demi lapis kebohongan yang melindunginya.

Konflik demi konflik meledak. Persahabatan dikhianati, aliansi runtuh, dan cinta yang mulai bersemi terancam layu sebelum berkembang. Li Mei terpojok. Pilihan sulit harus diambil: mengungkap kebenaran dan menghancurkan segalanya, atau terus hidup dalam kebohongan dan mengkhianati dirinya sendiri.

Puncaknya tiba saat Zhao Yun menemukan bukti tak terbantahkan tentang konspirasi yang menghancurkan keluarganya. Dan tanpa disangka, bukti itu menunjuk langsung pada Li Mei.

"Kau!" raung Zhao Yun, matanya memancarkan amarah dan kekecewaan. "Selama ini… kau berbohong padaku!"

Li Mei tidak menyangkal. Air mata mengalir deras di pipinya. "Maafkan aku," bisiknya, suaranya bergetar. "Aku tidak punya pilihan. Mereka akan membunuhku jika aku mengungkapkannya."

Namun, kata maaf terlambat diucapkan. Luka di hati Zhao Yun terlalu dalam. Ia merasa dikhianati, tidak hanya oleh musuh-musuhnya, tetapi juga oleh wanita yang mulai dicintainya.

Balas dendamnya tidak berteriak, tidak berdarah. Itu adalah balas dendam yang dingin, tenang, namun MENGHANCURKAN. Ia membongkar konspirasi itu di depan seluruh istana, mengungkap kejahatan para bangsawan yang selama ini bersembunyi di balik kekuasaan. Li Mei dibebaskan dari tuduhan, tetapi ia kehilangan segalanya. Kepercayaan Zhao Yun padanya hancur berkeping-keping.

Di akhir cerita, Li Mei berdiri sendirian di tengah taman istana yang kosong. Zhao Yun menghampirinya, senyum tipis menghiasi wajahnya. Senyum yang bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum perpisahan.

"Kau bebas sekarang," ucap Zhao Yun, suaranya datar tanpa emosi. "Pergilah. Mulailah hidup yang baru. Jangan pernah kembali."

Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Li Mei dengan hati yang hancur dan masa depan yang tidak pasti. Balas dendamnya sempurna. Ia tidak hanya menghancurkan musuh-musuhnya, tetapi juga menghancurkan hati wanita yang dicintainya.

Saat Li Mei menatap punggung Zhao Yun yang menjauh, ia tahu bahwa cintanya telah menjadi legenda—legenda tentang pengkhianatan, kebohongan, dan balas dendam.

Dan di tengah kesunyian yang mencekam, sebuah pertanyaan terlintas di benaknya: Apakah kebenaran akan pernah benar-benar membebaskan?

You Might Also Like: Cerpen Seru Bayangan Yang Menatapku

Langit yang Mengulang Keajaiban Kabut menggantung berat di puncak Gunung Tai, menelan cahaya matahari yang berusaha menembus. Lorong-loron...

Bikin Penasaran: Langit Yang Mengulang Keajaiban Bikin Penasaran: Langit Yang Mengulang Keajaiban

Langit yang Mengulang Keajaiban

Kabut menggantung berat di puncak Gunung Tai, menelan cahaya matahari yang berusaha menembus. Lorong-lorong Istana Timur sunyi senyap, hanya diisi bisikan angin yang terasa seperti desahan hantu. Di sanalah, di balik pilar naga berlapis emas yang pudar, dia berdiri. Bukan dia.

Atau begitulah pikir Putri Mei Xing.

Lima belas tahun berlalu sejak Pangeran Lian, tunangannya, dinyatakan hilang dalam pemberontakan. Lima belas tahun ia merajut kesetiaan dan kesedihan menjadi jubah yang membungkus hatinya. Namun, sosok di hadapannya, dengan mata yang sama namun tatapan yang berbeda, membuat jubah itu robek.

"Lian...?" bisik Mei Xing, suaranya gemetar.

Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tidak dikenalinya. "Putri Mei Xing. Lama tak berjumpa."

"Kau... kau kembali. Tapi bagaimana? Semua orang melihatmu..." Mei Xing tak sanggup melanjutkan.

"Mati?" sambung pria itu, nada suaranya halus namun menusuk tulang. "Kematian, Putri, hanyalah sebuah perspektif."

Mereka berbicara di ruang kerja Mei Xing, dikelilingi gulungan kitab kuno dan lukisan kaligrafi yang menggambarkan keagungan dinasti. Namun, keagungan itu terasa hampa, tertelan aura misteri yang dibawa pria itu.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Mei Xing, matanya menelisik setiap inci wajah pria itu.

Pria itu berjalan mendekat, aroma cendana dan pengkhianatan memenuhi ruangan. "Aku adalah jawaban atas doa-doamu, Putri. Jawaban atas dendam yang kau pendam selama lima belas tahun."

Mei Xing terkejut. Dendam? Ia selalu menganggap dirinya korban. Pangeran Lian adalah korban pemberontakan.

"Apa maksudmu?"

"Pemberontakan itu, Putri... bukanlah seperti yang kau bayangkan. Ayahmu, Kaisar, adalah dalang di baliknya. Ia menginginkan takhta untuk putranya yang lain. Aku hanyalah pion yang dikorbankan."

Mei Xing terdiam. Kenangan masa lalu berputar seperti badai. Tatapan curiga Kaisar, bisikan-bisikan di balik tirai, dan kepergian Lian yang mendadak. Selama ini, ia buta.

"Dan kau... kau tahu?"

"Tentu saja. Aku tahu sejak awal. Aku juga tahu kau menyimpan rahasia. Rahasia tentang ambisimu, Putri. Tentang keinginanmu untuk menjadi Ratu yang sesungguhnya."

Pria itu berhenti tepat di hadapan Mei Xing, matanya menyala dengan kegelapan yang sama dengan yang ia lihat di mata sang putri.

"Aku kembali, Putri. Bukan sebagai Pangeran Lian yang lemah, melainkan sebagai alat untuk mewujudkan impianmu... dan mimpiku."

Mei Xing menatap pria itu, melihat bayangan dirinya sendiri di matanya. Ia baru menyadari, di balik jubah kesedihan dan kesetiaan, ia telah merencanakan semuanya sejak lama. Pangeran Lian mungkin saja korban, tapi ia, Putri Mei Xing, adalah dalang sebenarnya.

"Kau kira, Putri," bisik pria itu, senyumnya kini lebar dan mengerikan, "kau adalah korban dalam permainan ini? Kau keliru. KAULAH YANG MEMULAINYA."

You Might Also Like: Jual Skincare Non Komedogenik Untuk_15