Bunga Shuǐ Xiān putih mekar sempurna di tepi danau. Aroma harumnya menusuk indra, membawa serpihan kenangan yang familiar namun terasa asing. Li Wei, seorang pelukis muda dengan mata sayu menyimpan kesedihan abadi, tak mampu melepaskan pandang dari keindahan rapuh itu. Seolah bunga itu memanggilnya, membangkitkan bayangan seorang wanita berpakaian merah, berdiri di tempat yang sama, seratus tahun yang lalu.
Ia tak percaya pada reinkarnasi. Ia seorang rasionalis. Namun, entah mengapa, setiap kali mendengar melodi guzheng yang dimainkan di sudut jalan, hatinya berdenyut sakit, seakan luka lama kembali menganga. Suara itu... suara itu adalah miliknya.
Seratus tahun lalu, di era Dinasti Qing, Li Wei adalah Li Lian, seorang jenderal muda gagah berani. Kekasihnya, Mei Ling, adalah wanita bangsawan dengan hati selembut sutra. Mereka saling mencintai, terikat oleh janji abadi di bawah pohon persik yang sedang bermekaran. Namun, perang dan intrik politik menghancurkan segalanya. Mei Ling dijodohkan dengan seorang pangeran, dan Li Lian, karena cintanya yang tulus, memilih mengundurkan diri, rela membiarkan Mei Ling pergi demi kebahagiaannya. Sebuah dosa.
Janji mereka terucap dalam bisikan pedih di malam perpisahan: "Di kehidupan selanjutnya, aku akan menemukanmu, Lian. Dan aku akan memilihmu, selalu."
Tapi takdir punya rencana lain.
Li Wei bertemu Zhang Mei, seorang kurator museum muda yang cerdas dan penuh semangat. Nama yang familiar, wajah yang... mirip. Saat Zhang Mei menatap lukisan potret Mei Ling yang disimpan di museum, air mata mengalir tanpa ia sadari. Kenangan itu... mulai kembali.
Mereka semakin dekat, terikat oleh benang tak kasat mata. Li Wei merasakan dejavu yang kuat setiap kali bersama Zhang Mei. Kata-kata yang sama terucap, mimpi yang sama terulang. Mereka menari di bawah cahaya rembulan, seperti yang pernah mereka lakukan seratus tahun lalu. Kebahagiaan semu.
Namun, kebenaran pahit perlahan terkuak. Melalui mimpi, melalui lukisan tua, melalui fragmen ingatan yang menyakitkan, mereka akhirnya mengerti: Mei Ling, yang dijodohkan dengan pangeran, akhirnya bunuh diri karena tak sanggup hidup tanpa Li Lian. Ia melanggar janjinya.
Dosa masa lalu menghantui mereka. Zhang Mei, yang menyimpan rasa bersalah mendalam, merasa tak pantas bersanding dengan Li Wei. Ia merasa telah mengecewakan Li Lian, sekali lagi.
Li Wei, alih-alih marah atau menuntut balas dendam, hanya menatap Zhang Mei dengan tatapan penuh pengertian. Ia mengerti beban yang dipikul Zhang Mei. Ia mengerti penderitaan yang telah dialaminya selama berabad-abad. Ia hanya tersenyum lembut, sebuah senyum yang menusuk, lebih menyakitkan dari amarah membara.
Ia tidak membalas dendam dengan kata-kata kasar atau tindakan keji. Ia membalas dendam dengan keheningan dan pengampunan. Karena itulah yang seharusnya dilakukan cinta sejati. Ia melepaskan Zhang Mei, membiarkannya pergi mencari kedamaian.
Saat Zhang Mei berbalik dan melangkah menjauh, Li Wei berbisik lirih, nyaris tak terdengar:
"Mungkin... di kehidupan selanjutnya..."
You Might Also Like: Drama Populer Aku Berdoa Pada Langit
0 Comments: