BABAK I: Sinyal yang Hilang
Langit Jakarta di tahun 2042 adalah kanvas abu-abu yang menolak matahari. Udara terasa hambar, seperti janji yang tak ditepati. Di tengah hiruk pikuk kendaraan terbang yang nyaris tabrakan di udara, Anya menggenggam erat ponselnya. Sinyal hilang lagi. Chat dari... siapa pun itu, terhenti di "sedang mengetik."
Anya mendengus. Siapa dia? Hantu digital? Malaikat pelindung yang salah server? Setiap malam, di jam yang sama, pesan-pesan aneh itu datang. Puitis, melankolis, seolah ditulis di atas daun lontar dengan tinta air mata.
"Dinda, rembulan malam ini berbisik tentangmu. Apakah kau mendengar?"
Anya membalas, "Siapa Dinda? Aku Anya. Dan rembulan tertutup polusi, bung."
Balasan tak kunjung tiba. Hanya loading abadi yang menyiksa.
BABAK II: Gema Masa Lalu
Di suatu tempat lain, di desa yang entah berantah, tahun 1945, seorang pemuda bernama Bagas duduk di bawah pohon beringin. Lampu minyak tanah menari-nari, menerangi buku catatannya. Bagas menulis surat untuk Dinda, kekasihnya yang telah pergi.
"Dinda, malam ini aku mendengar suara aneh di radio. Suara dari... masa depan? Mereka menyebut namamu, tapi dalam wujud yang berbeda. Apakah itu kau, Dinda? Apakah kau baik-baik saja?"
Radio butut itu mendesis, memuntahkan suara-suara aneh tentang kendaraan terbang dan polusi. Bagas mengernyit. Masa depan terdengar mengerikan. Tapi ada satu suara, samar dan terdistorsi, yang membuat jantungnya berdebar. Suara seorang gadis yang memanggil nama orang lain.
BABAK III: Dimensi yang Retak
Anya dan Bagas hidup di dimensi yang berbeda. Anya terjebak dalam masa depan dystopian yang hancur, Bagas terperangkap dalam nostalgia masa lalu yang kelam. Namun, entah bagaimana, pesan-pesan mereka menembus ruang dan waktu.
Mereka bertukar fragmen kehidupan, harapan, dan ketakutan. Anya bercerita tentang langit yang selalu abu-abu, Bagas tentang sawah yang menguning. Mereka saling jatuh cinta, bukan pada wujud fisik, tapi pada gema jiwa yang saling memanggil.
"Kau bilang ini cinta terlarang," tulis Anya suatu malam, "tapi kenapa terasa paling benar?"
Bagas membalas, "Mungkin karena cinta tidak mengenal waktu, Anya. Mungkin karena kita tidak mengenal waktu."
BABAK IV: Rahasia yang Ganjil
Suatu malam, Anya menemukan sebuah catatan lama di loteng apartemennya. Catatan itu ditulis oleh kakek buyutnya, seorang pria bernama Bagas. Di dalamnya, tertulis tentang seorang wanita bernama Dinda, dan suara-suara aneh dari masa depan.
Anya terpaku. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Ia bukan Anya. Ia adalah reinkarnasi Dinda. Dan Bagas... Bagas adalah eho dari cintanya yang tak pernah selesai.
Pesan terakhir dari Bagas tiba, terlambat, terpotong-potong: "Anya... kumohon... jaga... janji..."
Layar ponsel Anya padam. Listrik mati. Dunia di sekitarnya tenggelam dalam kegelapan.
BABAK V: Penutup
Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu di langit yang biru, bukan di antara sinyal yang hilang...
You Might Also Like: Reseller Skincare Penghasilan Tambahan
0 Comments: