Tangisan yang Tak Lagi Minta Maaf Babak pertama dimulai di tengah hiruk pikuk Shanghai modern. Di sebuah galeri seni yang megah, seorang w...

Endingnya Gini! Tangisan Yang Tak Lagi Minta Maaf Endingnya Gini! Tangisan Yang Tak Lagi Minta Maaf

Endingnya Gini! Tangisan Yang Tak Lagi Minta Maaf

Endingnya Gini! Tangisan Yang Tak Lagi Minta Maaf

Tangisan yang Tak Lagi Minta Maaf

Babak pertama dimulai di tengah hiruk pikuk Shanghai modern. Di sebuah galeri seni yang megah, seorang wanita muda bernama Lin Mei berdiri terpaku di depan lukisan bunga plum. Bukan lukisan yang membuatnya terpesona, melainkan suara piano yang mengalun dari sudut ruangan. Melodi itu... melodi itu seolah memanggilnya dari kedalaman jiwa.

Jantung Lin Mei berdebar kencang. Ia merasakan debaran aneh, seolah ingatannya berusaha keras untuk kembali. Ia menghampiri sumber suara dan melihat seorang pria duduk di depan piano. Sosoknya memancarkan aura ketenangan dan kesedihan. Namanya adalah Jiang Wei, seorang pianis muda yang sedang naik daun.

Pandangan mereka bertemu.

Ada sesuatu yang FAMILIAR.

"Anda..." Lin Mei memulai, suaranya bergetar. "Anda memainkan melodi yang... yang saya kenal."

Jiang Wei tersenyum tipis. "Melodi kuno. Mungkin Anda pernah mendengarnya di suatu tempat." Tapi matanya menyimpan rahasia yang lebih dalam.

Sejak hari itu, kehidupan Lin Mei dan Jiang Wei terjalin. Mimpi-mimpi aneh mulai menghantui Lin Mei. Potongan-potongan adegan muncul: taman bunga plum yang luas, rumah kayu kuno, seorang pria yang memeluknya di bawah rembulan. Bayangan seorang wanita lain yang penuh amarah dan kebencian.

Jiang Wei pun merasakan hal serupa. Ia dihantui bayangan masa lalu, kilasan dendam yang membara dan janji yang dilanggar. Ia selalu merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya, sesuatu yang ia cari tanpa tahu apa itu.

Setiap bunga plum yang mekar di musim semi, bisikan angin yang menerpa dedaunan, bahkan aroma hujan pertama, semua itu terasa seperti DEJA VU yang menyakitkan.

Perlahan, mereka mulai mencari tahu. Mereka mengunjungi perpustakaan kuno, menelusuri catatan sejarah, dan mewawancarai para sesepuh desa. Sebuah kisah tragis mulai terungkap:

Seratus tahun lalu, di desa terpencil di kaki gunung, hiduplah seorang wanita bernama Mei Lan yang mencintai seorang pria bernama Wei Jian. Mereka merencanakan pernikahan di bawah pohon plum yang sedang berbunga. Namun, seorang wanita lain, Nyonya Zhang, terobsesi dengan Wei Jian dan menjebak Mei Lan dengan tuduhan palsu. Mei Lan diusir dari desa dan meninggal dunia dalam kesedihan. Wei Jian, yang percaya pada fitnah itu, menikahi Nyonya Zhang. Di akhir hayatnya, Wei Jian menyadari kebenaran dan menyesali perbuatannya.

DOSA itu, JANJI yang dilanggar, semuanya terukir dalam jiwa mereka.

Lin Mei dan Jiang Wei menyadari bahwa mereka adalah reinkarnasi dari Mei Lan dan Wei Jian. Nyonya Zhang pun bereinkarnasi menjadi sosok yang dekat dengan mereka, menebar intrik dan berusaha menghancurkan kebahagiaan mereka sekali lagi.

Namun, Lin Mei bukan lagi Mei Lan yang lemah. Ia telah belajar dari masa lalu. Ia tak akan membalas dendam dengan kemarahan, melainkan dengan... KEHENINGAN dan PENGAMPUNAN.

Di puncak gunung, di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Lin Mei menghadapi reinkarnasi Nyonya Zhang. Ia menatapnya dengan mata yang penuh dengan kedamaian.

"Aku tidak membencimu," ucap Lin Mei dengan suara lembut. "Aku mengampunimu. Karena dendam hanya akan melahirkan dendam. Aku memilih untuk melepaskan masa lalu."

Reinkarnasi Nyonya Zhang terkejut. Ia tak menyangka akan mendapatkan pengampunan. Kekuatan kebenciannya luruh.

Jiang Wei menggenggam tangan Lin Mei. Mereka berdiri bersama, menatap matahari terbenam. Masa lalu telah berlalu. Masa depan terbentang di hadapan mereka.

Namun, sebelum mereka benar-benar berdamai, sebuah bisikan lirih terdengar, seolah berasal dari kehidupan sebelumnya: "Wei Jian... jangan lupakan janjimu..."

You Might Also Like: Ini Baru Drama Aku Menulis Kontrak

0 Comments: