Oke, ini dia kisah pendek bergaya dracin yang kamu minta: **Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat** Lampu-lampu kota S...

Kisah Populer: Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat Kisah Populer: Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat

Kisah Populer: Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat

Kisah Populer: Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat

Oke, ini dia kisah pendek bergaya dracin yang kamu minta: **Aku Memeluk Bayanganmu, Karena Hanya Itu Yang Masih Kuingat** Lampu-lampu kota Shanghai berkilauan seperti air mata yang tertahan. Aku berdiri di balkon apartemenku, gaun sutra merah marun melambai lembut ditiup angin malam. Di bawah sana, kehidupan terus berputar, tanpa peduli pada patah hatiku yang sunyi. Lima tahun. Lima tahun kuberikan padamu, Li Wei. Dan inilah balasanmu. Dulu, senyummu adalah matahariku. Kini, aku tahu itu hanyalah _topeng_ yang menipu, menyembunyikan hati yang busuk di baliknya. Dulu, pelukanmu adalah rumahku. Kini, aku merasakan racun menjalar di setiap sentuhan yang kuingat. Janji-janjimu dulu adalah melodi indah, sekarang berubah menjadi _belati_ yang menusuk jantungku berkali-kali. Aku masih ingat malam itu. Malam di mana kau berlutut, menggenggam tanganku, dan berjanji akan mencintaiku selamanya. Air mataku menetes, bukan karena kebahagiaan, melainkan firasat buruk yang tak bisa kuabaikan. Ternyata, firasat itu benar. Pernikahan kita, sebuah pesta mewah yang disaksikan oleh ratusan orang, hanyalah panggung sandiwara. Kau, sang aktor utama, dengan piawai memerankan peran kekasih yang sempurna. Sementara aku? Aku hanyalah penonton yang terlalu bodoh untuk melihat kebohongan di balik senyummu. Kau pikir aku tidak tahu tentangnya? Tentang sekretarismu yang muda dan cantik, yang selalu menatapmu dengan *mata penuh pemujaan*? Kau pikir aku tidak merasakan perubahan sikapmu, dinginnya sentuhanmu, dan tatapan kosongmu saat bersamaku? Kau salah, Li Wei. Aku melihat semuanya. Aku merasakannya. Tapi aku memilih diam. Aku memilih menunggu. Aku ingin melihat sejauh mana kau akan mempermainkan cintaku. Sekarang, saat kebenaran terungkap, aku tidak menangis. Aku tidak marah. Aku hanya merasa... _kosong_. Aku memeluk bayanganmu, karena hanya itu yang masih kuingat. Bayangan seorang pria yang pernah kucintai, seorang pria yang kini telah hilang, ditelan oleh keserakahan dan keegoisannya sendiri. **BALAS DENDAM?** Bukan darah yang kuinginkan. Bukan air mata yang ingin kusaksikan. Aku menginginkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: penyesalan abadi. Aku akan memastikan kau melihatku bersinar. Aku akan memastikan kau melihatku bahagia. Aku akan memastikan kau melihatku mencintai orang lain, lebih dari yang pernah kucintai dirimu. Dan di saat kau menyesal, di saat kau menyadari apa yang telah kau hilangkan, aku akan tersenyum padamu, Li Wei. Senyum yang sama yang dulu membuatmu jatuh cinta padaku. Tapi kali ini, senyum itu akan menjadi _nerakamu_. Aku bangkit, menegakkan tubuhku. Bayanganmu masih terpantul di jendela, tapi aku tidak lagi mempedulikannya. Aku melangkah pergi, meninggalkanmu dalam kegelapan. Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama, bukan? Atau mungkin... keduanya adalah mata uang yang sama, dengan sisi yang berbeda?
You Might Also Like: 142 Inspirasi Skincare Lokal Dengan

0 Comments: