**Kau Menyalakan Lilin di Altar, dan Nyalanya Membentuk Wajahku** Embun pagi menggantung di kelopak *bunga teratai* di paviliun, seolah air ...

Kisah Seru: Kau Menyalakan Lilin Di Altar, Dan Nyalanya Membentuk Wajahku Kisah Seru: Kau Menyalakan Lilin Di Altar, Dan Nyalanya Membentuk Wajahku

Kisah Seru: Kau Menyalakan Lilin Di Altar, Dan Nyalanya Membentuk Wajahku

Kisah Seru: Kau Menyalakan Lilin Di Altar, Dan Nyalanya Membentuk Wajahku

**Kau Menyalakan Lilin di Altar, dan Nyalanya Membentuk Wajahku** Embun pagi menggantung di kelopak *bunga teratai* di paviliun, seolah air mata yang enggan jatuh. Di dalam, Yi Mei, dengan gaun sutra putihnya yang sederhana, menyalakan lilin di altar leluhur. Asap wangi dupa memenuhi ruangan, membawa serta doa-doa yang terucap lirih. Setiap gerakan Yi Mei anggun, setiap tatapannya teduh, namun hatinya… hatinya menyimpan *badai* yang dahsyat. Lilin-lilin itu menyala satu persatu, memancarkan cahaya lembut yang menari-nari. Yi Mei terpaku. Di salah satu nyala lilin itu, dia melihat sebuah wajah. Bukan wajah leluhurnya. Bukan. Itu wajah *dia*, wajah Lin Wei, sahabatnya, belahan jiwanya… wanita yang telah dikhianatinya. Lin Wei adalah matahari bagi Yi Mei. Hangat, jujur, dan bersinar. Mereka tumbuh bersama, berbagi mimpi dan rahasia di bawah pohon *maple* yang sama. Tapi, matahari itu redup ketika Yi Mei memilih jalan yang berbeda. Jalan yang penuh dengan kebohongan dan ambisi. Yi Mei menikahi Zhao Jun, pria berkuasa yang seharusnya menjadi milik Lin Wei. Pengkhianatan itu merobek hati Lin Wei, menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak mungkin disatukan kembali. Zhao Jun, dengan tatapan mata elangnya yang tajam, selalu mengawasi Yi Mei. Dia tahu, wanita di sampingnya ini menyimpan rahasia. Dia tahu, Yi Mei *tidak pernah benar-benar mencintainya*. Dia melihatnya dalam tatapan kosong Yi Mei ketika mereka berdansa di pesta-pesta mewah, dia mendengarnya dalam bisikan lirih Yi Mei saat tidur malam. "Lin Wei… maafkan aku," bisikan itu menjadi duri dalam hatinya. Zhao Jun mulai menyelidiki. Dia menggali masa lalu Yi Mei, mengumpulkan serpihan-serpihan kebenaran yang tersembunyi di balik senyum manis dan tatapan teduh Yi Mei. Semakin dalam dia menggali, semakin dia memahami betapa *dahsyat* pengkhianatan yang dilakukan istrinya. Sementara itu, Yi Mei hidup dalam neraka buatannya sendiri. Setiap hari adalah sandiwara. Setiap senyum adalah topeng. Dia mencoba menebus kesalahannya dengan menjadi istri yang sempurna, pelayan yang patuh. Tapi, hatinya tetap kosong. Bayangan Lin Wei selalu menghantuinya. Puncaknya tiba saat Festival Musim Gugur. Keluarga Zhao berkumpul, meja makan dipenuhi dengan hidangan mewah. Di tengah kehangatan dan tawa, Zhao Jun mengangkat gelasnya. "Untuk Yi Mei, istriku yang tercinta," ucapnya dengan suara yang dipaksakan. "Semoga dia selalu bahagia… dan semoga dia tidak pernah melupakan masa lalunya." Kata-kata itu seperti cambuk yang mencambuk Yi Mei. Dia menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai menggenang. Zhao Jun melanjutkan, "Aku menemukan sesuatu yang *menarik* tentang masa lalu isitriku. Tentang seorang teman dekat bernama Lin Wei… tentang cinta yang dikhianati… tentang sebuah perjanjian yang dilanggar." Udara di ruangan itu terasa membeku. Semua mata tertuju pada Yi Mei. Zhao Jun membuka sebuah kotak kecil. Di dalamnya, terbaring sebuah kalung giok dengan liontin berbentuk *bunga maple*. Kalung milik Lin Wei. Yi Mei terisak. Rahasianya terbongkar. Kebohongannya terkuak. "Lin Wei… dia meninggal. Karena kau, Yi Mei. Karena ambisimu." Kata-kata Zhao Jun terdengar seperti vonis mati. Yi Mei mengangkat kepalanya. Tatapannya dingin, kosong, namun memancarkan *tekad* yang kuat. "Kau benar, Zhao Jun. Aku telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan. Aku telah mengkhianati Lin Wei. Dan untuk itu… aku akan membayar harganya." Malam itu, Yi Mei melakukan balas dendamnya. Bukan dengan amarah atau kekerasan. Tapi dengan keheningan. Dia meracuni anggur Zhao Jun. Racun yang akan membunuhnya perlahan, menyiksanya dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Zhao Jun ambruk ke lantai, mencengkeram dadanya. "Kau… kau… *iblis*!" rintihnya. Yi Mei berlutut di sampingnya. Dia tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang menyimpan perpisahan abadi. "Ini adalah senyum Lin Wei, Zhao Jun. Senyum yang kau rampas darinya." Zhao Jun menghembuskan napas terakhirnya. Yi Mei berdiri. Dia memandang lilin-lilin di altar. Nyala salah satunya masih membentuk wajah Lin Wei. Dia berbalik dan melangkah keluar dari paviliun, meninggalkan istana Zhao di belakangnya. Di tangannya, tergenggam sebuah surat. Surat pengakuan yang akan diserahkannya kepada pengadilan. Dia siap menerima hukumannya. Tapi, sebelum itu… dia ingin melihat matahari terbit sekali lagi. Matahari terbit adalah *awal*… atau *akhir*?
You Might Also Like: 90 Rekomendasi Skincare Lokal Untuk

0 Comments: