Baik, ini dia cerita pendek bergaya dracin seperti yang Anda minta: **Aku Menulis Doa, Tapi Tuhan Sudah Memihakmu** Malam itu, rembulan puca...

SERU! Aku Menulis Doa, Tapi Tuhan Sudah Memihakmu SERU! Aku Menulis Doa, Tapi Tuhan Sudah Memihakmu

SERU! Aku Menulis Doa, Tapi Tuhan Sudah Memihakmu

SERU! Aku Menulis Doa, Tapi Tuhan Sudah Memihakmu

Baik, ini dia cerita pendek bergaya dracin seperti yang Anda minta: **Aku Menulis Doa, Tapi Tuhan Sudah Memihakmu** Malam itu, rembulan pucat mengintip di balik tirai awan, sama lirihnya dengan alunan *guqin* yang mengalun dari paviliun terpencil. Setiap senar yang bergetar seolah mencabik hatiku, mengingatkanku pada senyum *nya* – senyum yang dulu kupercaya tulus, kini terasa seperti belati berkarat. Lima tahun. Lima tahun aku memendam luka, menyaksikan *dia* berbahagia di pelaminan yang seharusnya menjadi milikku. Semua orang mengira aku lemah, menyerah begitu saja. Mereka tak tahu, diamku adalah perisai. Di balik kebisuan ini, tersimpan sebuah rahasia yang, jika terkuak, akan menghancurkan segalanya. Dulu, aku menulis doa di atas kertas washi. Doa tentang cinta abadi, tentang kebahagiaan bersamanya. Aku menaruhnya di bawah pohon sakura yang selalu mekar di musim semi, tempat janji suci kami diucapkan. Tapi, takdir memang punya selera humor yang pahit. Doaku tak pernah sampai. Aku ingat *dia* pernah bercerita tentang jimat keberuntungan yang selalu dibawanya. Jimat yang diberikan oleh ibunya, konon bisa mengabulkan segala permohonan. Aku tak pernah percaya hal-hal mistis. Sampai suatu malam, tanpa sengaja, aku melihat *dia* mengeluarkan jimat itu. Di dalamnya, terlipat rapi sebuah kertas. Kertas yang sama dengan yang pernah ku tulis. *Kertas doaku*. Saat itulah aku mengerti. Tuhan bukan tidak mendengarku. Tuhan hanya sudah **memihakmu**. Jimat itu… *palsu*. Keberuntunganmu… dibangun di atas doa yang dicuri. Aku bisa saja membongkar kebohongan ini. Aku bisa saja merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Tapi, apa gunanya? Membalas dendam hanya akan menyisakan kehampaan. Aku memilih untuk **PERGI**. Aku memilih untuk menyaksikan roda takdir berputar, tanpa campur tanganku. Beberapa tahun berlalu. Kabar tentang *dia* sampai juga ke telingaku. Pernikahannya hancur. Bisnisnya bangkrut. Senyumnya hilang, digantikan kerutan penyesalan. Orang-orang mulai berbisik tentang karma. Tentang doa yang dikutuk. Aku hanya tersenyum pahit. Aku tahu, bukan kutukan yang menghantuinya. Tapi, ketidakberuntungan yang disebabkan oleh doa yang *dicuri*. Karena doa yang dicuri, tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan sejati. Malam ini, aku kembali berdiri di bawah pohon sakura yang sama. Bunga-bunga berguguran, menutupi tanah dengan permadani merah muda. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma musim semi yang pahit. Aku menulis doa yang baru. Bukan tentang cinta. Bukan tentang kebahagiaan. Hanya sebuah permohonan sederhana: agar *dia* menemukan kedamaian, meski harus dengan cara yang paling menyakitkan. Angin berhembus, membawa kertas doaku terbang tinggi, menghilang di kegelapan malam. Dan aku tahu… takdir, seperti alunan *guqin* yang melankolis, akan terus dimainkan, sampai melodi terakhir berhenti bergetar. _Apa yang akan terjadi jika dia tahu, bahwa *jimat palsu* itu telah kutukar dengan jimat sungguhan, berisi mantra yang justru membawa kesialan?_
You Might Also Like: 7 Fakta Arti Mimpi Diserang Burung

0 Comments: