Oke, ini dia: **Kau Meninggalkanku di Bawah Hujan Merah, Tapi Aku Tetap Tersenyum** Hujan merah. Bukan metafora, bukan kiasan. Benar-benar merah. Darah mengalir dari langit-langit Kota Terlarang, merembes dari celah-celah tak kasat mata, mewarnai segalanya dengan noda dosa. Di bawah kanopi merah inilah, aku melihatmu terakhir kali, *Hua Lan*. Kita tumbuh bersama, seperti akar pohon beringin yang saling melilit, tak terpisahkan. Kau, *putri angkat* Kaisar, dan aku, *pengawal pribadinya*. Tapi, lebih dari sekadar hubungan formalitas, kita adalah... saudara? Sahabat? Entahlah. Kata-kata selalu gagal menjelaskan ikatan kita. "Lan, hujan ini... aneh," bisikku, merasakan tetesan hangat di pipiku. Usiaku baru 17 tahun kala itu, polos dan percaya padamu. Kau tersenyum, senyum yang selalu membuat hatiku berdesir. "Mungkin... surga sedang menangis, *Wei*. Menangisi kita." Kita. Kata itu terasa begitu manis, begitu menjanjikan. Tapi, senyummu, Wei, selalu terasa... dingin. Bertahun-tahun berlalu. Aku naik pangkat, menjadi Jenderal Agung, tangan kanan Kaisar. Kau menjadi *Permaisuri*. Kekuatan kita tumbuh, tapi jarak di antara kita semakin lebar, dipenuhi bisikan-bisikan licik para kasim dan intrik istana. Suatu malam, dalam remang cahaya lilin, kau memanggilku ke paviliun rahasia di taman. Hujan merah kembali turun, lebih deras, lebih menakutkan. "Wei, aku punya rahasia," bisikmu, suaramu nyaris tak terdengar di tengah gemuruh petir. "Rahasia yang bisa menghancurkan kita berdua." Aku terdiam, jantungku berdebar kencang. "Rahasia apa, Lan?" Kau mengangkat wajahmu, matamu berkilauan dalam kegelapan. "Ayahmu... tidak mati karena sakit. Kaisar membunuhnya." Duniaku runtuh. Ayahku, seorang jenderal setia, dibunuh oleh Kaisar yang kuabdikan hidupku padanya? "Dan kau... kau tahu?" tanyaku, suaraku bergetar. "Aku tahu. Dan aku... membantunya." Pengkhianatan. Rasa sakit yang menusuk lebih dalam dari pedang mana pun. Mengapa? *MENGAPA, LAN?* "Mengapa?" bisikku, air mata bercampur dengan darah hujan di pipiku. "Karena... aku bukan Hua Lan," jawabmu, senyum dingin bermain di bibirmu. "Aku adalah Li Mei, putri mendiang Kaisar sebelumnya. Kaisar yang ayahmu bunuh untuk merebut tahta." **PEMBALASAN**. Kata itu membara di benakku. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Keesokan harinya, istana berlumuran darah. Pemberontakan. Aku memimpin pasukanku, menebas semua yang menghalangi jalanku. Akhirnya, aku menemukanmu, berdiri di altar suci, mengenakan jubah kebesaran Permaisuri yang berlumuran darah. "Kau gagal, Wei," bisikmu, senyum mengejek terpampang di wajahmu. "Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan takdir." "Takdir? Takdir yang kau ciptakan, Lan?" balasku, pedangku terhunus. Pertempuran singkat. Aku melucuti senjatamu, menjatuhkanmu ke lantai. "Mengapa, Lan? Mengapa kau membiarkan aku mencintaimu?" Kau tertawa, tawa yang membuat bulu kudukku meremang. "Karena aku ingin kau merasakan sakitnya kehilangan... seperti yang kurasakan saat kehilangan *ayahku*." Aku mengangkat pedangku, siap mengakhiri semuanya. "Wei..." bisikmu, napasmu tersengal. "...aku selalu..." Pedangku menembus jantungmu. Hujan merah semakin deras. Aku berdiri di sana, di tengah genangan darah, sendirian. *Mungkin... aku yang lebih dulu mati di dalam dirinya.*
You Might Also Like: Tomato Juice Vs Water Unveiling Ph

0 Comments: