Oke, mari kita mulai menulis kisah Dracin berjudul 'Kau Berjalan Menjauh, Tapi Bayanganmu Masih Menempel di Jantungku' dengan latar istana yang penuh intrik dan rahasia. **Kau Berjalan Menjauh, Tapi Bayanganmu Masih Menempel di Jantungku** Aula Emas Istana Naga menyala terang. Cahaya ribuan lilin menari di atas pilar-pilar marmer, memantulkan kemegahan yang menusuk mata. Di tengah keramaian itu, Kaisar Xuan berdiri. Aura kekuasaannya bagai badai yang tersembunyi di balik wajah yang tenang. Di sampingnya, berdiri Permaisuri Lian, anggun bagaikan bunga teratai yang mempesona, namun matanya menyimpan rahasia yang lebih dalam dari lautan. Cinta mereka, dahulu, adalah kisah yang ditulis oleh bintang-bintang. Kaisar Xuan, pangeran muda yang pemberani, dan Lian, putri dari keluarga bangsawan terkemuka. Mereka berjanji setia di bawah pohon persik yang mekar, tak menyadari bahwa takdir akan mengubah cinta mereka menjadi medan perang. Kini, setiap tatapan mereka bagaikan pedang yang terhunus. Setiap senyum, topeng yang menyembunyikan rencana. Di balik tirai sutra yang mahal, bisikan-bisikan pengkhianatan berdengung seperti lebah yang marah. Pejabat-pejabat istana, dengan mata tajam dan hati yang dingin, mengamati setiap gerak-gerik mereka, mencari celah untuk merebut kekuasaan. “Lian,” bisik Kaisar Xuan suatu malam, suaranya berat. Mereka berdiri di balkon istana, menatap langit yang dipenuhi bintang. “Apakah kau masih mengingat janji kita di bawah pohon persik?” Lian memalingkan wajahnya. “Janji? Janji adalah kata-kata kosong, Yang Mulia. Di istana ini, hanya kekuasaan yang berbicara.” Kaisar Xuan terdiam. Dia tahu, kata-kata Lian adalah cermin dari hatinya yang terluka. Dulu, dia mengira bisa melindungi Lian dari intrik istana. Namun, kekuasaan membutakannya. Dia terpaksa mengkhianati kepercayaan Lian, memilih takhta di atas cinta mereka. Waktu berlalu. Lian semakin tenggelam dalam intrik istana. Dia belajar bermain api, membalas setiap penghinaan dengan senyuman yang mematikan. Orang-orang mulai takut padanya, menjulukinya *Ratu Es*. Kaisar Xuan menyaksikan perubahan itu dengan hati yang hancur. Dia ingin mendekat, tetapi dinding yang dibangun Lian terlalu tinggi, terlalu kokoh. Suatu malam, sebuah pemberontakan meletus. Para pemberontak, dipimpin oleh seorang jenderal yang ambisius, menyerbu istana. Kaisar Xuan, terjebak dan terkhianati, hampir kehilangan nyawanya. Namun, di saat-saat terakhir, Lian muncul. Dengan pedang di tangannya, dia menebas para pemberontak, melindungi Kaisar Xuan dengan keberanian yang luar biasa. Ketika semua pemberontak telah dikalahkan, Lian berdiri di hadapan Kaisar Xuan, wajahnya dingin dan tanpa ekspresi. "Kau berjalan menjauh, Xuan. Kau memilih takhta daripada aku. Sekarang, terimalah konsekuensinya." Dengan gerakan secepat kilat, Lian menikamkan pedangnya ke jantung Kaisar Xuan. Dia jatuh ke tanah, matanya menatap Lian dengan rasa sakit dan kebingungan. Lian berlutut di sampingnya, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Aku mencintaimu, Xuan. Tapi cinta saja tidak cukup di istana ini. Sekarang, aku akan membangun kerajaan yang lebih kuat, di atas *darah* dan *air matamu*." Lian bangkit, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "RAKYATKU! ISTANA INI ADALAH MILIKKU SEKARANG!" Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri dengan tinta **DARAH** dan intrik yang belum selesai...
You Might Also Like: How To Curve Brim Of Your Hat Tutorial

0 Comments: