Oke, siap! Mari kita mulai kisah cinta absurd ala dracin dengan sentuhan puitis dan akhir yang menggantung. *** **Cinta yang Menjadi Awal Perang** Langit Jakarta, tahun 2042, berwarna seperti televisi rusak. Sinyal cinta, seperti sinyal Wi-Fi, **BERMASALAH**. Anya, seorang *programmer* generasi terakhir, hidup di antara gedung-gedung pencakar langit yang karatan dan kode-kode yang tak pernah selesai. Dia merindukan masa lalu, masa ketika senja masih oranye dan chat dibalas *secepat kilat*. Di suatu malam yang hening, di tengah hiruk pikuk server yang berisik, Anya menerima pesan. Bukan dari pacar robotnya yang bermasalah, bukan dari bosnya yang super *demanding*, tapi dari...entah dari mana. "Apakah kau mendengarku?" Pesan itu sederhana, namun terasa seperti melodi yang hilang. Anya membalas, meski ragu. "Siapa ini? Darimana kau berasal?" Balasan datang, tapi bukan berupa teks. Melainkan gambar: sebuah foto senja yang *sempurna*, tanpa filter, tanpa *glitch*. Senja yang mustahil ada di dunia Anya. Di belahan dunia lain, atau mungkin dimensi lain, hiduplah Bram. Seorang pemuda di tahun 1998 yang bekerja di sebuah toko kaset. Hidupnya adalah mixtape, kopi instan, dan mimpi-mimpi yang belum terjual. Dia menemukan sebuah radio tua di gudang, radio yang bisa menangkap suara-suara aneh. Suara seorang wanita. "Halo? Apakah ada orang di sana?" Bram terkejut. Dia pikir itu hanya gangguan frekuensi. Tapi suara itu terus kembali, suara Anya, seperti *echo* dari masa depan yang tak pernah dia bayangkan. Mereka mulai bercerita, tentang dunia mereka yang retak, tentang rindu yang membara. Anya menceritakan tentang langit yang selalu mendung, Bram menceritakan tentang *walkman* kesayangannya. Cinta tumbuh, seperti jamur di reruntuhan. Cinta yang aneh, cinta yang **MUSTAHIL**. Anya mencoba mencari Bram di internet, tapi tak ada. Seolah dia hantu, bayangan yang tak bisa disentuh. Bram mencoba merekam suara Anya ke kaset, tapi setiap kali dia memutar rekamannya, hanya ada *noise*. Suatu hari, Anya menemukan *glitch* dalam kode yang dia kerjakan. Sebuah anomali waktu, sebuah pintu ke masa lalu. Dia bisa melihat Bram, berdiri di depan toko kasetnya. Bram bisa melihat Anya, di layar komputernya yang retak. Mereka **TERPISAH**, oleh waktu, oleh teknologi, oleh takdir yang absurd. Kemudian, Anya menyadari sesuatu. Foto senja yang dikirimkan Bram...itu adalah foto yang pernah dia lihat di album foto neneknya. Foto yang diambil di toko kaset yang sama, di tahun 1998. Dan Bram...dia memiliki *walkman* yang sama seperti milik kakek Anya. Mereka *terhubung*, bukan sebagai dua jiwa yang bertemu, tapi sebagai *echo* dari kehidupan yang tak pernah selesai. Cinta mereka, hanyalah ulangan, bayangan dari sesuatu yang *seharusnya* terjadi. Sinyal semakin melemah. Chat semakin lambat. Langit semakin gelap. Anya mengirim pesan terakhir. **"Mungkin... kita akan bertemu di gelombang berikutnya..."**
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Dicakar Pari Simak

0 Comments: