**Cinta yang Mengirim Surat dari Dunia Lain** Hujan selalu berbicara bahasa yang sama dengan air mata. Di antara nisan-nisan yang basah, aroma tanah dan bunga krisan menjadi saksi bisu. Di sanalah, di sisi pusara berukir nama "Ailin," bayangan seorang pria berdiri. Bukan bayangan manusia, melainkan gumpalan kabut yang memendam kerinduan abadi. Dia adalah Jian, arwah yang *terjebak*, terikat oleh sebuah rahasia yang belum terucapkan. Dunia Jian adalah dunia senja abadi, di mana waktu mengalir bagai sungai yang *lambat*. Sentuhan angin di antara pepohonan mengeringkan lukanya. Dahulu, ia adalah seorang penulis muda yang penuh mimpi. Sekarang, ia hanya roh yang gentayangan, mengawasi Ailin dari kejauhan. Dulu, ia dan Ailin saling mencintai. Cinta mereka adalah melodi indah yang terputus di tengah nada tinggi. Sebuah kecelakaan merenggut nyawa Ailin, meninggalkan Jian dengan penyesalan yang membakar jiwa. Kata-kata cinta yang belum sempat terucap, janji yang belum sempat ditepati, semua menjadi rantai yang mengikatnya ke dunia ini. Ia kembali bukan untuk balas dendam, seperti yang *mungkin* dipikirkan orang-orang. Bukan kemarahan yang membawanya kembali, melainkan *kebutuhan* untuk membebaskan Ailin, dan dirinya sendiri. Hatinya, meski tak lagi berdetak, menyimpan beban berat. Setiap malam, Jian mencoba berkomunikasi dengan Ailin. Ia menulis surat, bukan dengan tinta dan pena, melainkan dengan energi arwahnya. Kata-kata itu muncul di buku harian Ailin, bayangan samar yang hanya bisa dibaca oleh jiwa yang *terluka*. "Ailin, maafkan aku. Aku tidak pernah memberitahumu betapa *berartinya* dirimu bagiku." "Ailin, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Sebuah rahasia yang membuatmu gelisah. Aku di sini, untuk membantumu." Butuh waktu, namun akhirnya Ailin menjawab. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan mimpi. Mimpi-mimpi itu adalah kepingan puzzle yang berserakan. Jian mengumpulkan kepingan-kepingan itu, satu per satu. Ternyata, Ailin mengetahui sebuah *kejahatan* yang dilakukan oleh keluarga Jian. Kejahatan yang bisa menghancurkan reputasi mereka. Ailin memilih diam, demi melindungi Jian. Namun, rahasia itu menghantuinya hingga akhir hayat. Jian tidak marah. Ia justru merasa *lebih* mencintai Ailin. Ia mengerti, pengorbanan Ailin adalah bukti cinta yang *sesungguhnya*. Malam itu, Jian menemukan surat wasiat Ailin. Surat itu berisi pengakuan atas kejahatan keluarga Jian dan permohonan maaf karena telah menyembunyikannya. Ailin ingin kebenaran terungkap, meski itu berarti menghancurkan segalanya. Jian memenuhi keinginan Ailin. Ia mengirimkan surat wasiat itu kepada pihak berwajib, *melepas* rahasia yang selama ini mengikat mereka berdua. Saat matahari terbit, Jian berdiri di sisi pusara Ailin. Beban di hatinya terasa *lebih ringan*. Ia telah menuntaskan apa yang tertinggal. Ia telah membebaskan Ailin, dan dirinya sendiri. Bayangannya memudar, semakin lama semakin menghilang. Hujan berhenti, menyisakan aroma tanah basah dan *kedamaian* yang langka. ***Dia akhirnya bisa beristirahat.***
You Might Also Like: Reseller Skincare Bisnis Sampingan

0 Comments: