## Cinta yang Hidup di Dalam Bayangan Kabut menggantung di atas Danau Bulan Sabit, selapis kain sutra abu-abu yang menyembunyikan rahasia abad silam. Di sanalah, di antara reruntuhan Paviliun Anggrek yang rapuh, aku melihatnya. Bukan dengan mata, melainkan dengan *jiwa*. Dia adalah lukisan yang hidup, melodi yang tertunda. Gaun sutra birunya berkibar seperti ombak yang tenang, rambutnya sehitam malam tanpa bintang, dan matanya… mata itu adalah *kunci* menuju dimensi lain, di mana waktu bukan lagi hakim yang kejam, melainkan sungai yang berkelok-kelok membawa mimpi. Namanya Yuè'é. Setidaknya, itulah yang terbisik angin saat aku mendekat. Suaranya seperti lonceng perak yang berdentang lirih di kuil terpencil, mengundangku masuk ke dalam labirin hatinya. Setiap pertemuan adalah *ilusi* yang manis. Kami berdansa di bawah rembulan yang pucat, berbagi kisah yang tak terucapkan, dan saling bertukar pandang yang membakar kalbu. Tangannya, sehalus kelopak bunga persik, menggenggam erat tanganku, seolah takut aku akan menghilang ditelan kabut pagi. Aku bertanya-tanya, apakah dia nyata? Apakah Yuè'é hanya bunga tidur, fragmen ingatan dari kehidupan yang terlupakan? Setiap pagi, saat mentari merekah, dia lenyap. Tinggal aroma dupa dan bayangan samar yang menari di dinding paviliun. Aku mencarinya di dunia nyata. Di lorong-lorong Kota Terlarang, di kebun-kebun Istana Musim Panas, bahkan di kedai teh remang-remang di pinggir kota. Tapi, tidak ada. Hanya tatapan iba dari para pejalan kaki dan bisikan sinis tentang seorang pria yang terperangkap dalam lamunan. Kemudian, datanglah hari itu. Saat angin bertiup lebih kencang, saat kabut lebih tebal dari biasanya. Aku melihatnya, berdiri di bawah pohon *Ginkgo* yang daunnya mulai menguning. Dia tidak sendiri. Di sampingnya berdiri seorang pria berpakaian kaisar, wajahnya angkuh dan dingin. Yuè'é menatapku. Bukan dengan tatapan mesra seperti biasanya, melainkan tatapan… **kesedihan yang mendalam**. Dia membuka mulut, dan kata-kata itu menghantamku seperti badai musim gugur. "Aku adalah lukisan, Anjing. Aku diciptakan untuk menemaninya, Kaisar Qianlong, dalam kesendiriannya. Cintamu... *cinta kita*... hanyalah bagian dari lukisan ini. Hanyalah **warna** yang membuat lukisan ini lebih indah." Rasa sakitnya menusuk sampai ke tulang sumsum. Selama ini, aku hanya mencintai bayangan, menghabiskan waktu dengan fantasi yang diciptakan oleh seorang pelukis istana yang genius. Aku hanya *pemandangan* di dalam sebuah lukisan kaisar. Dia tersenyum, senyum yang membuat hatiku hancur berkeping-keping. "Selamat tinggal, Anjing. Mungkin... di kehidupan selanjutnya..." Dia menghilang, bersama Kaisar Qianlong dan seluruh Paviliun Anggrek. Kabut menelanku. Yang tertinggal hanyalah aku, seorang pria yang mencintai lukisan, seorang pria yang dicintai oleh ilusi. Dan dari kedalaman danau, aku mendengar bisikan: *"... ingatlah, cinta sejati tidak mengenal batas dimensi..."*
You Might Also Like: 37 Chapter 7 Quiz Review Master D2L

0 Comments: