Baik, ini dia cerita pendek dengan gaya Dracin yang Anda inginkan: **Air Mata yang Menjadi Racun di Piala** Kabut tipis merayapi Danau Bulan Sabit, serupa kerudung duka yang menutupi wajah **Ling** *Shi*. Di pondok bambu sederhananya, malam itu ia duduk bersimpuh di depan meja rendah, jemarinya menari di atas senar guqin yang sunyi. Nada-nada yang dihasilkan begitu lirih, merangkai penyesalan yang mengalir bagai sungai di musim gugur. Lima tahun. Lima tahun ia mengabdi pada keluarga kekaisaran, menjadi *penasihat* setia Pangeran Xuan. Lima tahun pula ia menyembunyikan rasa cintanya pada sang pangeran, sebuah cinta yang **terlarang**, *beracun*. Namun, cinta bukan satu-satunya yang ia sembunyikan. Dulu, ia adalah pewaris terakhir garis keturunan tabib legendaris, yang mampu meramu obat dari racun dan racun dari obat. Warisan itu pula yang membuatnya menjadi bidak dalam intrik istana. Pangeran Xuan, yang awalnya tampak tulus, ternyata hanya menginginkan pengetahuannya. Setelah mendapatkan resep penawar racun mematikan untuk ayahnya, Kaisar yang sakit parah, Xuan menikahi putri dari Jenderal Agung. Pernikahan politik. Pernikahan yang menghancurkan hati Ling Shi. Ling Shi memilih diam. Bukan karena ia lemah, bukan karena ia tak berdaya. Ia menyimpan rahasia yang lebih besar: ia tahu bahwa Kaisar tidak sakit secara alami. Ada racun yang perlahan menggerogoti kesehatannya, racun yang hanya bisa dideteksi oleh keturunan tabib seperti dirinya. Dan ia tahu siapa dalang di baliknya. Di atas meja, di samping guqin, terdapat piala porselen putih berisi anggur beras. Ia menuangkan anggur itu perlahan, setetes demi setetes, seperti menuangkan sisa-sisa harapan. Namun, ada yang berbeda dengan anggur itu. Pantulan cahaya bulan di permukaannya tampak aneh, sedikit keperakan, *berkilauan*. Malam-malam berikutnya, Ling Shi terus memainkan guqin. Nada-nada penyesalannya semakin pilu. Sementara itu, di istana, Pangeran Xuan semakin berjaya. Ia menjadi pewaris takhta, mendapatkan semua yang ia inginkan. Namun, senyumnya tidak pernah sampai ke mata. Ada bayangan ketakutan di sana, rasa bersalah yang menghantuinya. Beberapa bulan kemudian, berita mengejutkan mengguncang istana. Putri Jenderal Agung, istri Pangeran Xuan, jatuh sakit mendadak. Gejalanya aneh, *membingungkan*. Tabib istana angkat tangan. Pangeran Xuan, panik, mencari Ling Shi. Dengan tatapan datar, Ling Shi menyetujui untuk membantu. Ia memeriksa sang putri dan dengan tenang menyatakan: "Ini adalah racun yang langka. Hanya penawar khusus yang bisa menyembuhkannya." Ling Shi kemudian meracik obat untuk sang putri. Sebuah ramuan yang tampak sederhana, namun mengandung racun yang sama yang digunakan untuk meracuni Kaisar dulu. Bedanya, dosisnya lebih tinggi. *Mematikan*. Saat Pangeran Xuan bertanya bahan rahasia ramuan itu, Ling Shi hanya tersenyum. "Itu adalah rahasia seorang tabib, Pangeran. Yang perlu Anda tahu adalah, ini akan menyembuhkan istri Anda." Putri meminum obat itu. Dan beberapa hari kemudian, ia meninggal dunia. Kematiannya mengguncang istana, menghancurkan aliansi politik Pangeran Xuan. Tahta yang sudah di depan mata, kini menjauh, lenyap ditelan asap. Ling Shi tidak pernah mengungkap kebenarannya. Ia membiarkan takdir yang berbalik arah. Ia membiarkan air matanya berubah menjadi racun di piala, bukan untuk membunuh, tapi untuk **menghukum**. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan hilangnya semua yang berharga. Suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang, Ling Shi kembali memainkan guqin. Nada-nada penyesalannya masih ada, namun kini bercampur dengan sedikit kelegaan. Ia menatap Danau Bulan Sabit, lalu mengangkat piala anggur beras. "Semoga *kau* mengerti, Pangeran, bahwa racun yang paling mematikan adalah **penyesalan**." Ia meneguk anggur itu hingga tandas, lalu menutup mata. Rasa pahit menjalar di lidahnya, rasa pahit yang tak sebanding dengan rasa sakit yang pernah ia rasakan. Ling Shi akhirnya meninggal dengan tenang. Pangeran Xuan, yang hancur dan kehilangan segalanya, kemudian menemukan sebuah gulungan tersembunyi di pondok bambu Ling Shi. Di dalamnya, tertulis sebuah resep. Resep *penawar racun* yang bisa menyelamatkan nyawa Putri. Namun, resep itu tidak lengkap. Ada satu bahan yang hilang. Di akhir gulungan, tertulis satu kalimat dengan tinta merah: *Air mata yang tidak pernah kau hargai*. Malam itu, Pangeran Xuan terduduk di depan Danau Bulan Sabit, air mata membasahi pipinya, dan ia menyadari bahwa ia telah meminum racun yang jauh lebih mematikan dari yang pernah ia bayangkan…
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Dipatuk Kambing Ternyata

0 Comments: