Baiklah, ini dia kisah pendek ala dracin, 'Cinta yang Meninggalkan Bekas di Singgasana': **Cinta yang Meninggalkan Bekas di Singgasana** Langit senja membias jingga di atas Kota Terlarang, serupa lukisan yang indah namun menyimpan ribuan rahasia. Di tengah kemegahan istana, Kaisar Li Wei berdiri, sorot matanya setajam elang, menyembunyikan badai yang bergejolak di dalam hatinya. Semua bermula dari *senyuman* Mei Hua, selir kesayangannya. Senyum yang dulu bagai mentari pagi, kini terasa bagai duri yang menusuk kalbu. Dulu, ia terpesona oleh kecantikan Mei Hua, oleh kepolosan yang menawan, oleh cinta yang terucap tulus dari bibirnya. Dulu… "Wei, aku akan selalu bersamamu," bisik Mei Hua suatu malam, dalam *pelukan* yang terasa begitu hangat. Kaisar Li Wei mempercayainya. Ia mempercayai cintanya, kesetiaannya, bahkan nyawanya ia gadaikan untuk wanita itu. Namun, janji hanyalah janji. Di balik tirai sutra dan wewangian dupa, pengkhianatan merajalela. Mei Hua, wanita yang ia cintai sepenuh hati, bersekongkol dengan pangeran pemberontak. *Belati* yang dulunya hanya metafora, kini menjelma nyata, menusuk tepat di jantung kepercayaan Kaisar. Kaisar Li Wei tidak meraung, tidak mengamuk. Ia tetap tenang, seperti danau yang permukaannya tenang namun menyimpan kedalaman tak terukur. Di hadapan para menteri dan jenderal, ia tetaplah Kaisar yang berwibawa, pemimpin yang tangguh. Tidak seorang pun tahu, di balik jubah kebesaran, hatinya remuk redam menjadi jutaan keping. "Mei Hua?" tanyanya suatu hari, saat wanita itu dihadapkan kepadanya atas tuduhan pengkhianatan. Suaranya datar, tanpa emosi. "Wei… aku…" Mei Hua tergagap, air mata mengalir di pipinya. Air mata yang dulu mampu meluluhkan hatinya, kini hanya terlihat seperti air mata buaya. Hukuman mati? Tidak. Kaisar Li Wei bukanlah orang yang haus darah. Ia tahu, kematian terlalu mudah untuk menghapus dosa. Ia memilih cara yang lebih *kejam*: kehancuran total, bukan fisik, tapi jiwa. Mei Hua, dan seluruh keluarganya, diasingkan ke perbatasan terpencil, kehilangan semua hak dan gelar kebangsawanan. Bukan hanya itu, Kaisar Li Wei memastikan bahwa nama Mei Hua akan dilupakan, dicoret dari sejarah, seolah wanita itu tidak pernah ada. *Penyesalan* yang abadi, itulah yang akan menjadi hukumannya. Di singgasana, Kaisar Li Wei menatap lukisan Mei Hua, wajahnya yang dulu begitu dicintai, kini terasa asing dan mengerikan. Ia mengangkat cangkir teh, menyesapnya perlahan, merasakan pahit getirnya kehidupan. Ia tahu, *balas dendam* ini tidak akan mengembalikan hatinya yang telah hancur. Senja semakin kelam. Kaisar Li Wei bangkit, berjalan meninggalkan singgasana yang kini terasa dingin dan hampa. Di benaknya, terngiang bisikan masa lalu, janji cinta yang beracun. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, **cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama.**
You Might Also Like: 54 Acupressure Guide To Inflammation

0 Comments: